1.9.11

Dream Home - Slasher Ala Hong Kong



Fenomena kota metropolis milik negeri Cina, Kota Hong Kong ternyata tak hanya memamerkan kehidupan mewah dan glamor. Nyatanya seorang perempuan eksekutif muda yang sehari-hari bekerja sebagai petugas pemasaran perusahaan asuransi "dirubah" oleh Hong Kong menjadi pembunuh berdarah dingin. Proses metaformosis seorang gadis manis nan menggemaskan menjadi jagal kejam tersebut dapat kita saksikan secara rinci dalam Dream Home.



Tidak hanya sekedar merinci proses transformasi yang dramatis, Ho Cheung Pang, sang sutradara film berjenis Slasher tersebut juga mampu membawa kengerian tepat di depan mata kita. Adegan pembuka film ini mungkin akan langsung mengusik rasa ingin tahu para penonton, ada apa ini, kenapa sampai sedemikian kejam? Pasalnya, siapapun pasti terheran heran, kenapa seorang wanita berparas cantik dengan lancarnya menjerat leher seorang penjaga malam tanpa dosa hingga tewas??

Adegan kemudian meloncat pada cerita tentang seorang anak yang bermimpi mempunyai apartemen nyaman dan berkelas di tepi laut, yang biasa kita lihat dalam brosur atau pamflet promosi wisata kota Hong Kong. Tanpa harus menjawab siapa jati diri sang anak, dan apa hubungannya dengan pembunuh berparas cantik, Ho langsung menarik penonton untuk kembali menyaksikan adegan sadis lain yang diperagakan sang gadis rupawan, yang belakangan diketahui bernama Chang Lai Sheung (Josie Ho).

Disinilah kecerdikan Ho mengolah cerita menjadi sajian layak "santap hingga habis". Ya, sejak awal Ho langsung memancing kita, untuk terus mengikuti alur cerita hingga tuntas tanpa menghiraukan segala jenis kecemasan dari adegan sadis yang akan muncul kembali.

Menonton Dream Home seperti memasuki arena rumah hantu. Kita tidak akan pernah tahu apa yang terdapat didalamnya jika tidak terus menelurusi lorong rumah hantu tersebut hingga bertemu cahaya penanda lorong telah berakhir. Alih-alih memicu rasa penat dan bosan, alur waktu maju mundur yang predictable dalam Dream Home justru menjadi senter wajib penonton yang akan selalu "digunakan" hingga rasa penasaran akan akhir sebuah lorong terjawab tuntas. Alur maju mundur tersebut juga bukan puzzle penguras otak khas film-film twisting horrors semacam Identity, atau The Others, melainkan sebagai guide yang sangat asyik untuk terus diikuti.

Asyik, padahal ini horror? Jika demikian pertanyaan anda, saya akan menjawab ya. Anda boleh heran, tapi cobalah menonton film ini meski saat memasuki menit 30 atau kurang mungkin anda sudah dibuat mual oleh muncratan darah yang intens disisipkan. Meski dari segi alur cerita terkesan sederhana, Dream Home memiliki daya pikat yang kuat dari segi karakterisasi dan dramatisasi yang dilakukan para aktor.

Josie sebagai tokoh sentral mampu menyihir penonton untuk melupakan dunianya dan memasuki dunia Dream Home. Sehingga, apa yang kita lihat, entah itu adegan sedih, konyol, dan bahkan sadis terasa begitu meresap dalam dunia realitas yang telah Ho bangun. Dream Home berhasil menyampaikan pesan yang kuat bahwa tekanan sosial dicampur ambisi dan sakit hati bisa merubah seseorang menjadi sadis dan gelap mata. (alf)

 





Trailer







Tidak ada komentar:

Posting Komentar