Pecinta horor Thailand patut berbahagia, mengingat
horror-horror berkelas selalu disuguhkan negeri gajah putih tersebut. Sebut saja Shutter, Alone, 4bia series, Coming Soon, atau The Victim. Tahun ini
horor asal Thailand kembali bergentayangan di Indonesia melalui Ladda Land.
Disutradarai Sophon Sakdaphisit yang pernah menukangi Coming Soon, Ladda Land memberikan nuansa horor yang berbeda. Sophon yang juga penulis skenario Shutter , mampu memvisualisasikan ruang horor yang sempit kepada penonton dengan mengangkat tema konflik keluarga dan hantu.
Dikisahkan keluarga kecil yang dikepalai Thee (Saharat Sangkapreecha) baru saja membeli rumah baru. Thee berharap pembelian rumah baru dapat membahagiakan sang istri Parn (Piyathida Woramusik), serta anak-anaknya Nan and Nat.
Hari pertama di rumah baru dibumbui gambaran sebuah keluarga baru yang mencoba meraih kebahagiaan. Sedikit konflik pun kerap terjadi karena, Nan si anak tertua tidak setuju dengan kepindahan mereka. Belum lagi ibunda Parn yang merasa ditelantarkan oleh anaknya tercinta. Sebelumnya, Thee sekeluarga tinggal menumpang di rumah ibunda Parn.
Rupanya berbagai masalah yang menerpa bahtera keluarga Thee tidak sanggup menggoyahkan tekad Thee dalam mencari bahagia bagi keluarganya. Sampai suatu tragedi terjadi di Ladda Land. Perumahan tempat rumah baru bagi Thee dan keluarga itu, dihebohkan kasus pembunuhan sadis seorang pembantu rumah tangga.
Sejak peristiwa pembunuhan tersebut, kejadian-kejadian aneh mulai terjadi, Thee menemukan suasana dingin dan kelam di Ladda Land, yang sebelumnya belum pernah dirasakan. Parn, Nan, dan Nat pun demikian, suasana angker dan aura jahat di sekitar Ladda Land begitu kuat dirasakan mereka.
Parahnya, satu demi satu tetangga "melarikan diri" dari Ladda Land. Alasannya, mereka melihat si hantu pembantu. Bahkan, penjaga keamanan perumahan turut menjadi korban sosok seram si hantu pembantu.
Bagaimana dengan keluarga Thee, mampukah mereka menjadi keluarga seutuhnya di tengah konflik dan perumahan yang semakin angker? Lalu mengapa si hantu pembantu begitu marah dan gusar di Ladda Land sampai-sampai "mengusir" para penduduk, adakah hantu lain disampingnya?
Begitu sederhana tema yang diangkat bukan berarti kualitas cerita menjadi kurang menggigit. Terbukti, dengan menerapkan tema semacam itu Sophon justru berhasil mengguncang saya dengan kejutan-kejutan di pertengahan film. Sophon juga berhasil men-setting pemikiran saya tentang Ladda Land pada sebelum, saat, dan sesudah menonton. Sungguh kemampuan yang hebat sebagai seorang horor filmmaker. Kamu pecinta horror Thailand sangat dianjurkan untuk menonton film, rugi kalau sampai lewat, saya jamin.
Permainan psikologis penonton benar-bebar "ON" di Ladda Land. Karena penggunaan unsur keluarga didalamnya sungguh tepat dalam menakut-nakuti penonton. Takut yang tidak hanya sekedar memori buruk yang bisa dihapus beberapa jam atau bahkan menit setelah menontonnya. Takut dari Ladda Land adalah ketakutan jangka panjang, yang selama kurang lebih 24 jam bergentayangan di ranah imajinasi dan memori saya. Well done, Sophon! (alf)
★★★★

Tidak ada komentar:
Posting Komentar